Mari berbagi informasi! ^^
silahkan kunjungi juga blog saya yang lain yantiyaa19.blogspot.com terimakasih ^^

Jumat, 12 Oktober 2012

tugas 2 - Speech Recognition


Speech recognition adalah proses konversi sebuah sinyal akustik, yang ditangkap oleh microphone atau telepon, untuk merangkai kata kata. Kata–kata yang dikenali merupakan hasil akhir untuk sebuah aplikasi seperti command & control, penginputan data, dan persiapan dokumen. Kita hanya perlu mengatakan perintah dengan bahasa inggris lalu komputer akan menjalankan perintah kita. Hal ini juga bisa dilakukan untuk pengetikan. Speech Recognition di windows 7 membuat kita bisa memerintah PC dengan suara kita untuk mendikte hampir ke berbagai aplikasi.
Lalu bagaimana sebenarnya awal mula ditemukan teknologi speech recognition ini?
1874 :
 Alexander Graham Bell berhasil membuktikkan bahwa frekuensi harmoni dari sebuah sinyal elektrik dapat dibagi-bagi yang kemudian hari berlanjut pada digitalisasi ucapan.
1952 :
Bell Labs mengembangkan speech recognizer pertama dengan menggunakan teknologi pemisah frekuensi yang serupa dengan teknologi yang dikembangkan oleh Alexander Graham Bell.
1971-1976 :
Defence Advance Research Project Agency dibentuk yang merupakan proyek riset dengan dana dari pemerintah AS. Tujuan dari proyek ini adalah untuk melakukan penelitian teknologi speech recognition. Penemuan terbesar yang dihasilkan proyek ini adalah peningkatan dalam menekan permasalahan variabilitas suara. Pada rentang tahun yang sama pula ditemukan :
  • Pemrograman dinamik oleh tiga peneliti asal Jepang, Itakura, Skoe, dan Chiba yang dikemudian hari menjadi dasar bagi deret waktu non-linier.
  • Pemodelan Makov oleh Jim Baker dan Fred Jelinek dari IBM yang merupakan pemodelan untuk menentukan letak informasi tetap dalam sebuah sinyal wicara (speech signal).
Pertengahan tahun 1970-an :
Itakura mengadakan sebuah riset untuk mengembangkan sebuah produk yang berbasis pada asumsi bahwa noise itu walaupun terdengar sama namun pada kenyataannya tidak demikian. Produk tersebut akurasinya mencapai 97,3% saat diuji menggunakan 200 kosakata.
Bell Labs mengembangkan sistem yang mampu mengenali suara dari orang-orang yang berbeda dengan akurasi hingga 97,1%.
Akhir 1970-an :
Produk speech recognition pertama mulai dipasarkan dengan harga mulai $259 hingga $100.000.
1980-an :
Pasaran speech recognition mulai digolongkan menjadi dua, yaitu Call Center Speech Recognition System dan Speech-to-Text Application.
1990-an :
Prosesor sebuah personal computer telah sanggup memenuhi level minimal yang diperlukan agar sebuah software speech recognition dapat berjalan dengan lancar serta efektif untuk penggunaan pribadi.
1999 :
Sebuah program speech recognition baru telah mampu memahami pembicaraan manusia secara berkesinambungan dengan tingkat akurasi hingga 99% yang membuatnya dapat dengan mudah digunakan oleh pengguna awam sekaligus.

Penerapan speech recognition
Bidang komunikasi
-   Komando Suara adalah suatu program pada komputer yang melakukan perintah berdasarkan komando suara dari pengguna. Contohnya pada aplikasi Microsoft Voice yang berbasis bahasa Inggris. Ketika pengguna mengatakan “Mulai kalkulator” dengan intonasi dan tata bahasa yang sesuai, komputer akan segera membuka aplikasi kalkulator. Jika komando suara yang diberikan sesuai dengan daftar perintah yang tersedia, aplikasi akan memastikan komando suara dengan menampilkan tulisan “Apakah Anda meminta saya untuk ‘mulai kalkulator’?”. Untuk melakukan verifikasi, pengguna cukup mengatakan “Lakukan” dan komputer akan langsung beroperasi.
-    Pendiktean adalah sebuah proses mendikte yang sekarang ini banyak dimanfaatkan dalam pembuatan laporan atau penelitian. Contohnya pada aplikasi Microsoft Dictation yang merupakan aplikasi yang dapat menuliskan apa yang diucapkan oleh pengguna secara otomatis.
-          Telepon
Pada telepon, teknologi pengenal ucapan digunakan pada proses penekanan tombol otomatis yang dapat menelpon nomor tujuan dengan komando suara.
Bidang kesehatan                            
Alat pengenal ucapan banyak digunakan dalam bidang kesehatan untuk membantu para penyandang cacat dalam beraktivitas. Contohnya pada aplikasi Antarmuka Suara Pengguna atau Voice User Interface (VUI) yang menggunakan teknologi pengenal ucapan dimana pengendalian saklar lampu misalnya, tidak perlu dilakukan secara manual dengan menggerakkan saklar tetapi cukup dengan mengeluarkan perintah dalam bentuk ucapan sebagai saklarnya. Metode ini membantu manusia yang secara fisik tidak dapat menggerakkan saklar karena cacat pada tangan misalnya. Penerapan VUI ini tidak hanya untuk lampu saja tapi bisa juga untuk aplikasi-aplikasi kontrol yang lain.
Bidang militer
-          Pelatihan Penerbangan, Aplikasi alat pengenal ucapan dalam bidang militer adalah pada pengatur lalu-lintas udara atau yang dikenal dengan Air Traffic Controllers (ATC) yang dipakai oleh para pilot untuk mendapatkan keterangan mengenai keadaan lalu-lintas udara seperti radar, cuaca, dan navigasi. Alat pengenal ucapan digunakan sebagai pengganti operator yang memberikan informasi kepada pilot dengan cara berdialog.
-          Helikopter
Aplikasi alat pengenal ucapan pada helikopter digunakan untuk berkomunikasi lewat radio dan menyesuaikan sistem navigasi. Alat ini sangat diperlukan pada helikopter karena ketika terbang, sangat banyak gangguan yang akan menyulitkan pilot bila harus berkomunikasi dan menyesuaikan navigasi dengan terlebih dahulu memencet tombol tertentu.
Kelebihan dari peralatan yang menggunakan teknologi ini adalah :
  1. Cepat
    Teknologi ini mempercepat transmisi informasi dan umpan balik dari transmisi tersebut. Contohnya pada komando suara. Hanya dalam selang waktu sekitar satu atau dua detik setelah kita mengkomandokan perintah melalui suara, komputer sudah memberi umpan balik atas komando kita.
  2. Mudah digunakan, Kemudahan teknologi ini juga dapat dilihat dalam aplikasi komando suara. Komando yang biasanya kita masukkan ke dalam komputer dengan menggunakan tetikus atau papan ketik kini dapat dengan mudahnya kita lakukan tanpa perangkat keras, yakni dengan komando suara.
Kekurangan dari peralatan yang menggunakan teknologi ini adalah :
  1. Rawan terhadap gangguan. Hal ini disebabkan oleh proses sinyal suara yang masih berbasis frekuensi. Ketika sebuah informasi dalam sinyal suara mempunyai komponen frekuensi yang sama banyaknya dengan komponen frekuensi gangguannya, akan sulit untuk memisahkan gangguan dari sinyal suara.
  2. Jumlah kata yang dapat dikenal terbatas. Hal ini disebabkan pengenal ucapan bekerja dengan cara mencari kemiripan dengan basis data yang dimiliki.
Hardware yang dibutuhkan dalam implementasi Speech Recognition :
Sound card : Merupakan perangkat yang ditambahkan dalam suatu Komputer yang fungsinya sebagai perangkat input dan output suara untuk mengubah sinyal elektrik, menjadi analog maupun menjadi digital.
Microphone : Perangkat input suara yang berfungsi untuk mengubah suara yang melewati udara, air dari benda orang menjadi sinyal elektrik.
Komputer atau Komputer Server : Dalam proses suara digital menterjemahkan gelombang suara menjadi suatu simbol biasanya menjadi suatu nomor biner yang dapat diproses lagi kemudian diidentifikasikan dan dicocokan dengan database yang berisi berkas suara agar dapat dikenali.

Terdapat 4 langkah utama dalam sistem pengenalan suara :
1.      Penerimaan data input
2.      Ekstraksi, yaitu penyimpanan data masukan sekaligus pembuatan database untuk template.
3.      Pembandingan/pencocokan, yaitu tahap pencocokan data baru dengan data suara (pencocokan tata bahasa) pada template.
4.      Validasi identitas pengguna.
Secara umum, speech recognition memproses sinyal suara yang masuk dan menyimpannya dalam bentuk digital. Hasit proses digitalisasi tersebut kemudian dikonversi dalam bentuk spektrum suara yang akan dianalisa dengan membandingkannya dengan template suara pada database sistem.
Sebelumnya, data suara masukan dipilah-pilah dan diproses satu per satu berdasarkan urutannya. Pemilahan ini dilakukan agar proses analisis dapat dilakukan secara paralel. Proses yang pertama kali dilakukan ialah memproses gelombang kontinu spektrum suara ke dalam bentuk diskrit. Langkah berikutnya ialah proses kalkulasi yang dibagi menjadi dua bagian :
-          Transformasi gelombang diskrit menjadi array data.
-      Untuk masing-masing elemen pada array data, hitung "ketinggian" gelombang (frekuensi). Objek permasaiahan yang akan dibagi adalah masukan berukuran n, berupa data diskrit gelombang suara.
Ketika mengkonversi gelombang suara ke dalam bentuk diskrit, gelombang diperlebar dengan cara memperinci berdasarkan waktu. Hal ini dilakukan agar proses algoritma seianjutnya (pencocokan) lebih mudah diiakukan. Namun, efek buruknya ialah array of array data yang terbentuk akan lebih banyak. Dari tiap elemen array data tersebut, dikonversi ke dalam bentuk bilangan biner. Data biner tersebut yang nantinya akan dibandingkan dengan template data suara.

Sumber :

Sabtu, 06 Oktober 2012

CONTOH PENERAPAN TELEMATIKA


Pengertian Telematika
Telematika adalah singkatan dari telekomunikasi dan informatika, atau dapat diartikan sebagai sarana komunikasi jarak jauh melalui media elektromagnetik yang memiliki kemampuan menstransmisikan sejumlah besar informasi dalam sekejap, dengan jangkauan seluruh dunia, dan dalam berbagai cara, yaitu dengan perantara suara, huruf, gambar, dan data atau kombinasi-kombinasinya.

Contoh penerapan telematika dalam bidang perdagangan.
E-commerce merupakan salah satu contoh penerapan telematika dalam bidang perdagangan. Perdagangan elektronik (electronic commerce, disingkat sebagai EC, atau e-commerce) merupakan proses pembelian, penjualan, transfer, atau pertukaran produk, jasa, atau informasi melalui jaringan komputer, termasuk internet. Aplikasi e-commerce sendiri dimulai pada awal tahun 1970-an dengan berbagai inovasi seperti transfer dana secara elektronik. Akan tetapi, aplikasi tersebut terbatas pada perusahaan besar dan beberapa perusahaan kecil yang sangat berani. Kemudian diperkenalkanlah pertukaran data elektonik (electronic data interchange-EDI), yang mengotomatisasikan berbagai pemrosesan transaksi rutin dan menyebarkan e-commerce ke semua industri.
Pada awal tahun 1990-an, aplikasi e-commerce meluas dengan cepat, bersamaan dengan komersialisasi internet serta diperkenalkannya Web. Guncangan besar dalam aktivitas e-commerce dimulai pada tahun 2000 dan masih terasa hingga sekitar tiga tahun; ratusan perusahaan dot.com menjadi bangkrut. Sejak tahun 2003 e-commerce terus menunjukan kemajuan yang stabil. Kini, kebanyakan perusahaan menengah dan besar serta banyak perusahaan kecil mempraktikan e-commerce dalam beberapa bentuk.
 Transaksi e-commerce dapat dilakukan antara berbagai pihak, berikut merupakan jenis umum dari transaksi e-commerce :
·         Bisnis ke bisnis
Dalam transaksi ini, baik penjual maupun pembeli adalah organisasi bisnis/perusahaan. Kebanyakan e-commerce adalah jenis ini.
·         Perdagangan kolaboratif
Para mitra bisnis berkolaborasi secara elektronik. Kolaborasi semacam ini sering kali terjadi antara dan dalam mitra bisnis di sepanjang rantai pasokan.
·         Bisnis ke konsumen
E-commerce yang penjualnya adalah perusahaan, dan pembelinya adalah perorangan. Juga disebut sebagai e-tailing.
·         Konsumen ke konsumen
E-commerce dimana seseorang menjual produk atau jasa ke orang lain.
·         Konsumen ke bisnis
Dimana pelanggan memberitahukan kebutuhan atas suatu produk atau jasa tertentu, dan para pemasok bersaing untuk menyediakan produk atau jasa ke pelanggan. Contohnya di Priceline.com, dimana pelanggan menyebutkan produk dan harga yang diinginkan, dan Priceline mencoba untuk menemukan pemasok yang memenuhi kebutuhan tersebut.
·         Perdagangan intrabisnis
Dalam situasi ini perusahaan menggunakan e-commerce secara internal untuk memperbaiki operasinya. Kondisi khusus dalam hal ini disebut sebagai EC B2E (business to its employees).
·         Pemerintah ke warga
E-commerce  dimana pemerintah menyedaikan layanan ke para warganya melalui berbagai teknologi e-commerce. Unit-unit pemerintah dapat melakukan bisnis dengan berbagai unit pemerintah lainnya serta dengan berbagai perusahaan.
·         Perdagangan mobile
E-commerce yang dilakukan dalam lingkungan nirkabel, seperti dengan menggunakan telepon seluler untuk mengakses internet dan berbelanja, maka hal ini disebut m-commerce.

Semua komponen e-commerce membutuhkan praktik manajemen yang baik. Ini berarti bahwa perusahaan perlu merencanakan, mengorganisasi, memotivasi, membuat strategi dan merestrukturisasi berbagai proses seperti yang dibutuhkan.

Sumber :
-          http://id.m.wikipedia.org/wiki/Telematika
-        Turban Efraim, R. Kelly rainer, jr. dan Richard E. Potter. 2006. Pengantar Teknologi informasi, edisi 3. Salemba Infotek. Jakarta.

Selasa, 10 Januari 2012

laporan pengesahan proposal


PROPOSAL PENERAPAN BUDAYA DEMOKRASI

BAGI SISWA SEKOLAH DASAR





Diajukan untuk menempuh mata kuliah Bahasa Indonesia

Dosen Pembimbing : Sangsang Sangabakti



Oleh :

Priyanti komalasari
3 KA 07
14109850




PROGRAM STUDI BAHASA INDONESIA
UNIVERSITAS GUNADARMA
2011




LEMBAR PENGESAHAN

Depok, 10 Januari 2012

Mengetahui,
Ketua Jurusan Sistem Informasi


Dr.
Setia Wirawan, Skom, MMSI.


Menyetujui,
Pembantu Rektor III, Universitas Gunadarma.


Irwan Bastian, S.Kom, M.Msi.



KATA PENGANTAR


Puji syukur terucap kepada Allah SWT Tuhan semesta alam, yang telah memberikan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal ini dengan sebaik-baiknya.
Adapun tujuan penulis menyusun proposal ini adalah sebagai tugas akhir dari mata kuliah Bahasa Indonesia.
Tersusunnya proposal ini tidak hanya hasil dari pekerjaan penulis semata namun bantuan serta masukan dari berbagai pihak juga menjadi hal penting dalam hal ini. Untuk itu penulis berterima kasih kepada Bapak Sangsang Sangabakti selaku dosen pembimbing mata kuliah Bahasa Indonesia, serta semua teman-teman yang senantiasa memberikan masukan demi tersusunnya proposal ini.
Penulis menyadari kekurangan dan ketidaksempurnaan dari proposal ini dikarenakan keterbatasan penulis maka dari itu saran dan masukan yang membangun merupakan hal yang sangat dibutuhkan oleh penulis demi menyempurnakan proposal ini.


Depok, 29 November 2011

Penulis


                                                                          

DAFTAR ISI 
Lembar Pengesahan..........................................................................................                   
Kata Pengantar..................................................................................................

Daftar Isi...........................................................................................................

Bab I - Pendahuluan

            1.1 Latar Belakang................................................................................

            1.2 Identifikasi Masalah.........................................................................

            1.3 Pembatasan Masalah.......................................................................

            1.4 Rumusan Masalah............................................................................
            1.5 Tujuan Penelitian..............................................................................
1.6 Manfaat Penelitian............................................................................
Bab II – Landasan Teori

            2.1 Pengertian Demokrasi.......................................................................

            2.2 Landasan - landasan Demokrasi........................................................

            2.3 Upaya Penerapan Budaya Demokrasi di Sekolah...............................

            2.4 Langkah – langkah Rencana Pembudayaan Demokrasi di Sekolah.....

Bab III – Metode Penelitian                                                           

            3.1 Sasaran, Waktu, dan Lokasi Penelitian...............................................

            3.2 Metode Penelitian..............................................................................



BAB I

PENDAHULUAN

      1.1  Latar belakang

Sekolah merupakan tonggak dasar penanaman budaya demokrasi bagi generasi penerus bangsa, karena di sinilah mereka bertemu dengan berbagai macam pikiran-pikiran, watak, karakter, budaya, dan agama. Sekolah sebagai lembaga pendidikan memiliki peran utama dalam menumbuhkan budaya demokrasi di kalangan pelajar. Oleh karena itu, sekolah harus menampilkan budaya demokratis dalam pengelolaan pendidikannya.                                                                                                                                                   

      1.2  Identifikasi Masalah
Dalam pelaksanaanya, banyak sekali penyimpangan terhadap nilai-nilai demokrasi,  terutama yang ada dilingkungan sekolah.

Permasalahan yang muncul diantaranya yaitu:          

- seringnya anak memilih – milih teman dalam bergaul.
- kurangnya sikap menghargai pendapat teman yang berbeda dengan pendapatnya.
- masih sering terjadi kekerasan antar siswa.

Untuk mengeliminasi masalah-masalah yang ada, maka makalah ini akan memaparkan pentingnya budaya demokrasi dalam kehidupan disekolah. Untuk itu, penulis menyusun proposal ini dengan judul “PENERAPAN BUDAYA DEMOKRASI BAGI SISWA SEKOLAH DASAR”.

      1.3  Batasan Masalah                
Pembahasan tentang demokrasi sangat luas sekali pengkajiannya. Untuk itu penulis sengaja menyempitkan bahasan agar tidak terjadi ketidak tepatan sasaran dari tujuan penelitian ini. Penulis membatasi permasalahan yaitu pada masalah demokrasi di sekolah. 
1.4 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang serta permasalahan yang ada maka dapat dikemukakan beberapa rumusan masalah :
1. Bagaimanakah cara mendeskripsikan budaya demokrasi pada siswa sekolah dasar?
2. Bagaimanakah solusi dalam mengatasi faktor penghambat pelaksanaan budaya demokrasi disekolah?
1.5 tujuan penelitian
1. Mendeskripsikan pemahaman siswa mengenai konsep demokrasi

2. Mendeskripsikan pelaksanaan budaya demokrasi di sekolah

3. Mendeskripsikan faktor pendukung pelaksanaan budaya demokrasi di sekolah

4. Mendeskripsikan faktor penghambat pelaksanaan budaya demokrasi di sekolah

5. Mendeskripsikan solusi dalam mengatasi faktor penghambat pelaksanaan budaya demokrasi di sekolah. 

1.6 manfaat penelitian
Secara praktis hasil penelitian ini akan menjadi referensi bagi guru sekolah dasar untuk kepentingan mata pelajaran ini, khususnya yang berkaitan dengan siswa. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan penelitian lebih lanjut bagi peneliti.


BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Demokrasi  
Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut.
Menurut Internasional Commision of Jurits  
Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan oleh rakyat dimana kekuasaan tertinggi ditangan rakyat dan di jalankan langsung oleh mereka atau oleh wakil-wakil yang mereka pilih dibawah sistem pemilihan yang bebas. Jadi, yang di utamakan dalam pemerintahan demokrasi adalah rakyat.
Menurut Lincoln
Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat (government of the people, by the people, and for the people).
Menurut C.F Strong                                       
Suatu sistem pemerintahan di mana mayoritas anggota dewasa dari masyarakat politik ikut serta atas dasar sistem perwakilan yang menjamin bahwa pemerintahan akhirnya mempertanggungjawabkan tindakan-tindakan kepada mayoritas itu.
2.2 Landasan-landasan Demokrasi
·         Pembukaan UUD 1945
1. Alinea pertama : Kemerdekaan ialah hak segala bangsa.                                       
2. Alinea kedua : Mengantarkan rakyat Indonesia kepintu gerbang kemerdekaan Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
3. Alinea ketiga : Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan didorong oleh keinginan luhur supaya berkehidupan dan kebangsaaan yang bebas.
4. Alinea keempat : Melindungi segenap bangsa.
·         Batang Tubuh UUD 1945
1. Pasal 1 ayat 2 : Kedaulatan adalah ditangan rakyat.
2. Pasal 2 : Majelis Permusyawaratan Rakyat.
3. Pasal 6 : Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.
4. Pasal 24 dan Pasal 25 : Peradilan yang merdeka.
5. Pasal 27 ayat 1 : Persamaan kedudukan di dalam hukum.
6. Pasal 28 : Kemerdekaan berserikat dan berkumpul.
·         Lain-lain
1. Ketetapan MPR RI No. XVII/MPR/1998 tentang hak asasi
2. UU No. 39 tahun 1999 tentang HAM
2.3 Upaya penerapan budaya demokrasi di sekolah
Budaya demokrasi adalah kemampuan manusia yang berupa sikap dan kegiatan yang sesuai untuk membangun sistem pemerintahan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Sekolah sendiri merupakan tonggak dasar penanaman budaya demokrasi bagi generasi penerus bangsa, karena di sinilah mereka bertemu dengan berbagai macam pikiran-pikiran, watak, karakter, budaya, dan agama. Sekolah sebagai lembaga pendidikan memiliki peran utama dalam menumbuhkan budaya demokrasi di kalangan pelajar. Oleh karena itu, sekolah harus menampilkan budaya demokratis dalam pengelolaan pendidikannya. 

Terbentuknya budaya demokrasi disekolah dasar banyak ditentukan oleh penerapan sistem pendidikan yang berlaku, sehingga semakin demokratis pelaksanaan pendidikan di suatu sekolah, akan memberikan implikasi pada peningkatan taraf kepedulian siswa terhadap hak dan kewajibannya. Pengaruh yang sangat kuat dari penerapan demokrasi disekolah dasar yaitu berkembangnya keberagaman pola pikir anak dan kreativitas yang tinggi. Penerapan budaya demokrasi dipandang mampu untuk ikut membantu pelaksanaan dan penanaman demokrasi pendidikan kepada para siswa.
Secara konseptual, pendidikan demokrasi sekolah dasar adalah suatu bentuk pendidikan yang memuat unsur-unsur pendidikan demokrasi yang berlaku disekolah, di mana prinsip umum demokrasi yang mengandung pengertian mekanisme sosial politik yang dilakukan melalui prinsip dari, oleh, dan untuk warga sekolah menjadi fondasi dan tujuannya. Mengacu pada realitas demokrasi di Indonesia, pendidikan demokrasi dalam pendidikan kehidupan sekolah dengan konsep itu sudah saatnya dilakukan. Tujuannya adalah untuk membangun kesadaran siswa akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara dan mampu menggunakannya secara demokratis dikehidupan sehari-harinya. Pelaksanaan budaya demokrasi yang umumnya diterapkan di sekolah dasar adalah pemilihan pengurus kelas, dimana hal ini  merupakan salah satu bentuk dari pembelajaran nyata dalam berpolitik secara demokratis pada tataran sekolah. Adapun faktor yang mendukung pelaksanaan budaya demokrasi di sekolah antara lain: 

-          tersedianya wadah pembelajaran berorganisasi bagi siswa di sekolah;

-          adanya keleluasaan untuk mengemukakan pendapat pada saat musyawarah;

-          sekolah memberikan dukungan baik dari segi pendanaan kegiatan, fasilitas, dan sarana prasarana, maupun dari segi pembelajaran demokrasi seperti diberikannya materi demokrasi pada   mata pelajaran PKn serta materi pembinaan kesiswaan berkaitan dengan pembelajaran demokrasi;

Adapun faktor penghambat dari pelaksanaan budaya demokrasi di sekolah adalah:

-          kurangnya kesadaran siswa untuk tertib pada saat melakukan musyawarah kelas.

-          sifat malu bertanya ataupun mengemukakan pendapat yang terkadang ada di diri siswa.

-          adanya pengaruh negatif dari guru yang terlalu keras dalam mengajar siswa juga berdampak pada terhambatnya pelaksanaan budaya demokrasi di sekolah

-          perbedaan pendapat yang muncul pada saat musyawarah.

Solusi untuk mengatasi faktor penghambat tersebut antara lain:

-          pentingnya kesadaran diri yang harus dimiliki oleh setiap siswa pada pelaksaan kegiatan musyawarah di sekolah.

-          keikutsertaan guru dalam pelaksanaan jalannya musyawarah yang dilakukan oleh siswa;

-          kesabaran guru dalam menghadapi siswa.

Baik pengajar maupun peserta didik ternyata dipengaruhi oleh nilai sosial, pengetahuan, dan minat masing-masing. Pengajar yang memiliki potensi tinggi dalam disiplin ilmu serta mampu mengolah topik menjadi sajian menarik, diyakini akan berdampak positif terhadap penerima pesan atau peserta didik. Sebaliknya kebekuan komunikasi karena perbedaan persepsi yang besar antara pengajar dan peserta didik berakibat buruk terhadap proses belajar. Untuk mengefektifkan materi ajar yang disampaikan, maka dalam inovasi model dan desain pembelajaran demokratis difasilitasi melalui penggunaan berbagai media yang ada, tersedia dan mudah didapat di sekitar lingkungan keseharian siswa.                                                 

2.4 Langkah-langkah rencana pembudayaan demokrasi di sekolah    

Sebenarnya demokrasi di sekolah bisa langsung diterapkan dalam praktik, mulai pemilihan pengurus kelas hingga osis. Dalam praktik pembelajaran siswa lebih banyak berdiskusi dan bercurah pikir. Perlu ada budaya untuk menghargai pendapat dan lain sebagainya. Selengkapnya seperti di uraikan dibawah ini:

1.      menerima teman – teman yang berbeda latar belakang budaya, ras, dan agama.

2.      Menghargai pendapat teman meskipun pendapat itu berbeda dengan kita.

3.      Mengutamakan musyawarah, membuat kesepakatan untuk menyelesaikan masalah.

4.      Bersedia menerima kesalahan atau kekalahan secara dewasa dan ikhlas.

5.      Sikap anti kekerasan

6.      Memiliki kejujuran dan integritas.

7.      Memiliki rasa malu dan tanggung jawab kepada sekolah.

8.      Menghargai hak – hak kaum minoritas.

9.      Menghargai perbedaan yang ada pada siswa.

10.  Mengutamakan musyawarah untuk kesepakatan bersama dalam menyelesaikan masalah.

11.  Senantiasa musyawarah untuk pembagian kerja.

12.  Terbuka terhadap suatu masalah yang dihadapi bersama.

13.  Tidak merasa benar atau menang sendiri dalam berbicara dengan siswa lain.



BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Sasaran, Waktu dan Lokasi Penelitian

Yang menjadi sasaran pada penelitian ini adalah siswa siswa sekolah dasar . rencana dan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan penelitian ini kurang lebih selama 6 bualn (1 semester), mulai dari bulan januari-juni yang bertempat di SD Leuwinanggung Kota Depok.

3.2 Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan jenis penelitian kuantitatif dan kualitatif deskriptif. Penelitian kuantitatif digunakan untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap konsep demokrasi sedangkan penelitian kualitatif deskriptif digunakan untuk mengetahui pelaksanaan, faktor pendukung, faktor penghambat, dan solusi budaya demokrasi di sekolah. Subjek penelitiannya adalah siswa- siswi SD leuwinanggung. Adapun tahapan pengumpulan data yang dipergunakan adalah angket, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data menggunakan resuksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.