Mari berbagi informasi! ^^
silahkan kunjungi juga blog saya yang lain yantiyaa19.blogspot.com terimakasih ^^

Minggu, 23 Oktober 2011

TOPIK, TEMA, DAN KERANGKA KARANGAN


7.1          Pendahuluan
                Tema sering dianggap orang sebagai sesuatu yang paling sentral dan sakral dalam urusan karang – mengarang, sedangkan topik dianggap tidak sesakral tema, dan pada umumnya dibicarakan kemudian. Kerena itu agak kurang adil rasanya bila dalam hal mengarang, masalah tema terlalu diistimewakan, sementara topik (bukan judul karangan) agak dianaktirikan, supaya ada perbandingan, marilah kita beri tempat yang penting pula bagi topik sebagai tonggak awal untuk memulai mengarang.
                Kalau di amati , ada dua pengertian tentang tema yang berkembang di tengah masyarakat. Pertama, tema yang pendek. Tema ini umumnya berupa kata atau frasa, dimisalkan film bertema perjuangan. Kedua, tema yang panjang. Tema ini biasanya berupa kalimat yang isinya bersifat umum; misalnya Dengan Semangat Sportivitas, Kita Sukseskan PON ke – 15.Di sisi lain, bila bertolak dari tema yang pendek tadi timbul pula kesulitan karena belum ada ide yang dapat ditangkap oleh calon penulis. Penulis berpendapat, karena tema umumnya lebih abstrak dari topik tampaknya prosedur mengarang yang diawali dengan merumuskan tema hanya cocok untuk jenis karangan tertentu saja terutama karangan sastra. Karangan sastra memang banyak yang abstrak. Karangan ilmiah yang realistis, konkret, dan faktual itu kurang cocok jika prosedur penulisannya diawali dengan merumuskan tema. Penulis juga kurang setuju dengan pendapat yang mematok bahwa tema harus berbentuk satu kalimat. Ide yang sederhana memang cukup jelas jika dirumuskan dalam satu kalimat. Namun, ide yang lebih besar dan luas tentu tak ada salahnya jika dirumuskan berbentuk satu alinea, asalkan idenya tunggal dan bulat. Keharusan merumuskan tema dalam satu kalimat, agaknya memasung keinginan memperjelas tema.
7.2            Topik dan Judul

                  Topik berarti pokok pembicaraan atau pokok permasalahan. Topik karangan adalah suatu hal yang akan digarap menjadi karangan merupakan jawaban atas pertanyaan masalah apa yang akan ditulis? Atau hendak menulis apa ?
Jika seseorang akan mengarang, ia terlebih dahulu harus memilih dan menetapkan topik karangannya. Permasalahannya di sekitar kita yang dapat dijadikan topik karangan jumlahnya sangat banyak : putus sekolah, pengangguran , kenaikan harga. Ciri khas topik terletak pada permasalahannya yang bersifat umum dan belum terurai.
Adapun judul karangan pada dasarnya adalah perincian atau penjabaran dari topik. Jika dibandingkan topik, judul lebih spesifik dan sering telah menyiratkan permasalahan atau variabel yang akan dibahas. Memang topik seperti aksitektur,ekonomi,hukum,komputer,listrik,manajemen, boleh saja dijadikan judul karangan,tetapi judul tidaklah harus sama dengan topik. Jika topik sekaligus menjadi judul, biasanya karangan akan bersifat umum dan ruang lingkupnya juga sangat luas. Judul karangan sedapat-dapatnya singkat dan padat, menarik perhatian, serta menggambarkan garis besar pembahasan.
Topik dan judul dapat memiliki persamaan dalam hal sama – sama dapat menjadi judul karangan. Namun, antara keduanya terdapat perbedaan; topik adalah ‘payung besar’ yang bersifat umum dan belum menggambarkan sudut pandang penulisnya, sedangkan judul lebih spesifik dan telah mengandung permasalahan yang lebih jelas atau lebih terarah dan telah menggambarkan sudut pandang penulisnya.
Cara pertama untuk mempersempit pokok pembicaraan dapat dilakukan dengan memecah pokok pembicaraan menjadi bagian-bagian yang makin kecil yang disebut subtopik. Cara kedua ialah dengan menuliskan pokok umum dan membuat daftar aspek khusus apa saja dari pokok itu secara berurutan kebawah. Dari daftar itu dapat dipilih salah satu aspek untuk dijadikan topik karangan. Cara ketiga dapat dilakukan dengan mengajukan lima pertanyaan berikut mengenai pokok pembicaraan : apa, siapa, di mana, kapan, dan bagaimana. Pokok pembicaraan dapat ditulis di atas, lalu dibawahnya disediakan kolom –kolom untuk menjawab kelima pertanyaan itu. Dalam setiap kolom dituliskan aspek – aspek khusus dari pokok pembicaraan.
7.3          Tema
                Tema berarti pokok pembicaraan. Ide atau gagasan tertentu yang akan disampaikan oleh penulis dalam karangannya disebut tema karangan. Penetapan tema oleh penulis sebelum mulai mengarang sangatlah penting untuk pedoman menulis secara teratur dan jelas sehingga karangan tidak menyimpang dari tujuan yang telah ditetapkan. Ide yang kita tangkap setelah selesai membaca tulisan seseorang terlepas dari kita menyetujui atau menolak pemikiran penulisnya itulah yang disebut tema. Tema yang kita peroleh setelah selesai membaca karangan seseorang disebut tema akhir. Dalam karya ilmiah mahasiswa, tema harus dirumuskan sejak awa untuk diketahui oleh pembimbing, dan tema itu disebut tema awal.
                Tema dapat juga diartikan sebagai pengungkapan maksud dan tujuan. Tujuan yang dirumuskan secara singkat dan wujudnya berupa satu kalimat disebut tesis. Tesis juga dapat diartikan sebagai pernyataan singkat tentang tujuan penulisan. Walaupun tema dan tesis itu sebenarnya berada didalam pikiran penulis, sebaiknya tetap dirumuskan secara eksplisit, terutama bagi penulis pemula. Rumusan itu akan memudahkan penulis menyusun kerangka karangan. Berbeda dengan tesis, rumusan tema boleh lebih dari satu kalimat asalkan seluruh kalimat bersama –sama mengungkapkan ide karangan. Perhatikan contoh dibawah ini tentang judul karangan dan tujuan yang dipikirkan oleh penulisnya .
1)            Topik                     :               Cara Mengemukakan Pendapat yang Efektif
                Tesis/tujuan       :               membekali pembaca tentang cara mengemukakan pendapat secara                                                       logis dan sistematis dengan menggunakan bahasa yang tepat dan                                                            pas.
                Tema yang dirumuskan itu bukanlah satu – satunya tema yang dapat diketengahkan dari topik diatas. Masih banyak tema lain yang dapat dituangkan sesuai dengan ide pikiran dan tujuan yang hendak dicapai oleh penulis, seperti halnya topik, tema pun perlu dibatasi dan diarahkan pada fokus atau titik perhatian tertentu.



7.4       Kerangka Karangan
            Kerangka karangan adalah rencana teratur tentang pembagian dan penyusunan gagasan. Fungsi utama kerangka karangan adalah mengatur hubungan antara gagasan – gagasan yang ada. Melalui kerangka karangan, pengarang dapat melihat kekuatan dan kelemahan dalam perencanaan karangannya.
            Kerangka karangan mengandung rencana kerja bagaimana menyusun karangan. Kerangka akan membantu penulis menggarap karangan yang logis dan teratur serta memungkinkan penulis membedakan  ide  - ide utama dari ide – ide tambahan. Kerangka karangan dapat mengalami perubahan terus – menerus untuk mencapai suatu bentuk yang lebih sempurna. Kerangka karangan dapat berbentuk catatan – catatan sederhana, tetapi dapat juga mendetail. Kerangka yang belum final disebut outline sementara , sedangkan kerangka yang sudah tersususn rapi dan lengkap disebut final outline. Dalam proses penyusunan karangan ada tahapan yang harus dijalani, yaitu memilih topik, mengumpulkan informasi, mengatur gagasan, dan menulis karangan itu sendiri.
            Secara terinci kerangka karangan dapat membantu pengarang.penulis dalam hal – hal sebagai berikut :
1.      kerangka karangan akan mempermudah pengarang menuliskan karanganannya dan dapat mencegah pengarang mengolah suatu ide sampai dua kali.
2.      Kerangka karangan akan membantu pengarang mengatur atau menempatkan klimaks yang berbeda – beda di dalam karangannya.
3.      Bila kerangka karangan telah rapi tersusun, berarti separuh karanagn sudah selesai karena semua ide sudah dikumpul, dirinci, dan diruntun dengan teratur. Pengarang tinggal menyusun alimat – kalimatnya saja untuk membunyikan ide dan gagasannya.
4.      Kerangka karangan merupakan miniatur dari keseluruhan karanagn. Melaui kerangka karangan, pembaca dapat melihat ide serta struktur suatu karangan.
7.4.1 Bentuk Kerangka Karangan
            Kerangka karangan ada dua macam, yaitu (1) kerangka topik, dan (2) kerangka kalimat. Dalam praktik pemakaian, yang banyak dipakai adalah kerangka topik.
            Isi kerangka topik terdiri atas kata, frasa, dan klausa yang didahului tanda – tanda yang sudah lazim untuk menyatakan hubungan antargagasan. Tanda baca akhir(titik) tidak diperlukan karena tidak dipakainya kalimat lengkap.
            Kerangka kalimat lebih bersifat resmi dan isinya berupa kalimat lengkap. Pemakaian kalimat lengkap menunjukkan  diperlukannya pemikiran yang lebih luas daripada yang dituntut dalam kerangka topik. Tanda baca titik harusdipakai pada akhir kalimat yang dipakai untuk menuliskan judul bab dan subbab. Kerangka kalimat banyak dipakai pada proses awal penyusunan outline. Bila outline selesai, kerangka kalimat dapat dipadatkan menjadi kerangka topik.. jadi, kerangka dapat saja berbentuk gabungan kerangka kalimat dan kerangka topik.
            Kerangka dapat dibentuk dengan sistem tanda atau ode tertentu. Hubungan di antara gagasan yang ditunjukkan oleh kerangka dinyatakan denagn serangkaian kode yang berupa huruf dan angka. Bagian utama biasanya didahului huruf atau angka tertentu, sedangakn bagian bawahan (subbab) menggunakan tanda yang lain. Ada juga kerangka yang hanya mengguankan angka Arab, jika karangannya singkat. Angka Arab juga dapat digabung denagn huruf kecil jika karangannya tidak terlalu panjang, misalnya untuk makalah atau artikel sederhana. Kode – kode itu akan lebih kompleks dalam karanagn yang besar seperti skripsi, tesis, disertasi dan buku.
Gabungan Angka dan Huruf
Angka Arab
I. ...................................
1. ..............................
   A. ...............................
1.1 ............................
       1. .............................
1.1.1 .........................
           a. ..........................
1.1.1 .........................
                1) .......................
1.1.1.1 ......................

7.4.2    Pola Penyusunan Kerangka Karangan
            Ada dua pola terpenting yang lazim dipakai untuk menyusun kerangka karangan, yaitu (1) pola alamiah, dan (2) pola logis. Pola pertama disebut alamiah karena memakai pendekatan berdasarkan faktor alamiah yang esensial, yaitu ruang (tempat) dan waktu. Pola kedua dinamakan pola logis karena memakai pendekatan berdasrkan jalan pikiran atau cara berpikir manusia yang selalu mengamati sesuatu berdasarkan logika.

7.4.2.1 Pola Alamiah
            Seperti yang telah diuraikan diatas. Penyusunan kerangka karangan yang berpola alamiah berdimensi ruang dan waktu. Oleh karena itu, urutan unit-unit dalam kerangka pola alamiah dapat dibagi dua, yaitu (1) urutan ruang, dan (2) urutan waktu. Yang dimaksud dengan urutan ruang adalah pola penguraian yang menggambarkan keadaan suatu ruang: dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah, dan seterusnya; sedangkan urutan waktu adalah penguraian berdasarkan urutan kejadian suatu peristiwa atau rangkaian peristiwa secara kronologis.

a)      Urutan Ruang
            Urutan ruang dipakai untuk mendeskripsikan suatu tempat atau ruang, umpamanya kantor, gedung, stadion, lokasi/wilayah tertentu. Deskripsi suatu gedung dapat dimulai dari lantai dasar sampai ke lantai tertinggi. Stadion atau lapangan sepakbola dapat dideskripsikan dengan urutan timur-barat, utara-selatan. Berikut ini disajikan contoh bagian kerangka karangan yang memakai urutan ruang.
Topik: Laporan Lokasi Banjir di Indonesia
            I. Banjir di Pulau Jawa
               A. Banjir di Jawa Barat
                    1. Daerah Ciamis
                    2. Daerah Garut
               B. Banjir di Jawa Barat
                   1. Daerah Semarang
                   2. Daerah Pekalongan
            II. Banjir di ...

b)      Urutan Waktu
            Urutan waktu dipakai untuk menarasikan (menceritakan) suatu peristiwa/kejadian, baik yang berdiri sendiri maupun yang merupakan rangkaian peristiwa. Kerangka karang tentang sejarah pastilah memakai urutan waktu. Agar tidak membosankan, urutan waktu seperti diatas dapat divariasikan dengan sorot balik: dari akhir peristiwa mundur ke awal peristiwa (flashback). Perhatikan contoh kerangka karangan yang memakai urutan waktu di bawah ini.
Topik: Riwayat Hidup Rabindranath Tagore
1.      Jatidiri Rabindranath Tagore
2.      Pendidikan Rabindranath Tagore
3.      Karier Rabindranath Tagore
4.      Akhir Hidup Rabindranath Tagore
                        Berdasarkan kerangka diatas dapat dibuatkan karangan singkat yang terdiri atas satu alinea; dapat diperluas menjadi empat alinea; bahkan dapat diperuas menjadi satu buku yang terdiri atas empat bab. Begitulah pentingnya membuat kerangka karangan sebelum mengarang. Perhatikan contoh karangan singkat terdiri atas satu alinea yang disusun berdasarkan kerangka di atas.
7.4.2.2 Pola logis
            Di atas telah disebutkan bahwa pola Logis memakai pendekatan berdasarkan cara berpikir manusia. Cara berpikir ada beberapa macam dan pendekatannya berbeda  beda bergantung pada sudut pandang dan tanggapan penulis terhadap topik yang akan ditulis. Itu sebabnyadalam kerangka pola logis timbul variasi penempatan unit-unit. Adapun macam-macam adalah kilmaks-antiklimaks, sebab-akibat, pemecahan masalah, dan umum-khusus. Kiranya macam-macam urutan pola logis  it tidak perlu lagi dijelaskan di sini satu per satu beserta lawan atau kebalikannya. Dengan memperhatikan contoh kerangka karangan urutan klimaks, misalnya, dengan mudah dapat kita bayangkan antiklimaks; demikian juga urutan pasangan yang lainnya. Amatilah dengan seksama contoh kerangka karangan berikut ini.
Contoh 1 (Urutan Klimaks)
            Topik: Kejatuhan Soeharto
                   I.             Praktik KKN Merajarela
                II.             Keresahan di Tengah Masyarakat
             III.             Kerusuhan Sosial di Mana-mana
             IV.             Tuntutan Reformasi MenggemA
                V.             Kejatuhan yang Tragis
Contoh 2 (Urutan Sebab – Akibat)
            Topik : Pemukiman Tanah Tinggi Terbakar
1.                   Kebakaran di Tanah Tinggi
2.                   Penyebab Kebakaran
3.                   Kerugian yang Diderita Masyarakat dan Pemerintah
4.                   Rencana Rehabilitasi Fisik
Contoh 3 (Urutan Pemecahan Masalah)
            Topik : Bahaya Ectasy dan Upaya Mengatasinya
1.                   Apakah Ectasy
2.                   Bahaya Ectasy
2.1.             Pengaruh Ectasy terhadap Syaraf Pemakainya
2.2.             Pengaruh Ectasy terhadap Masyarakat
2.2.1.      Gangguan Kesehatan Masyarakat
2.2.2.      Gangguan Kriminalitas
3.                   Upaya Mengatasi Bahaya Ectasy
4.                   Simpulan dan Saran

Contoh 4 (Urutan Umum-Khusus)
            Topik : Komunikasi Lisan
                               I.            Komunikasi dan Bahasa
                            II.            Komunikasi Lisan dan Perangkatnya
A.    Kemampuan Kebahasaan
1.      Olah Vokal
2.      Volume dan Nada Suara
B.        Kemampuan Akting
1.       Mimik Muka
2.       Gerakan Anggota Tubuh
                            III.            Praktik Komunikasi Lisan
                            IV.            ........................

Jumat, 21 Oktober 2011

kelompok 3 - bab 2


EJAAN YANG DISEMPURNAKAN
Penulisan Unsur Serapan                         
Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari pelbagai bahasa lain baik dari dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing seperti Sansakerta, Arab, Portugis, atau Inggris.
Berdasarkan taraf integrasinya, unsur pinjaman dalam bahasa Indonesia dapat dibagi atas dua golongan besar. Pertama, unsur yang belum sepenuhnya terserap kedalam bahasa Indonesia, seperti reshuffle, shuttle cock. Unsur-unsur ini dipakai dalam konteks bahasa indonesia, tetapi pengucapannya masih mengikuti cara asing. Kedua,unsur pinjaman yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia.
Pemakaian Tanda Baca
A. Tanda Titik (.)   
(1) Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Misalnya: Anak kecil itu menangis.
(2) Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf pengkodean suatu judul bab atau subbab.
Misalnya:
III. Departemen Dalam Negeri
A.      Direktorat Jendral PMD
B.      Direktorat Jendral Agraria
1.      Subdit ...
2.      Subdit ...
Catatan : Tanda titik tidak dipakai dibelakang angka pada pengkodean sistem digit jika angka itu merupakan yang terAkhir dalam deretan angka sebelum judul bab atau subbab.
(3) Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka, jam, menit, dan detik yang menunjukan waktu dan jangka waktu.
Misalnya: Pukul 12.10.20 (pukul 12 lewat 10 menit 20 detik)
(4) Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatan yang tidak menunjukan jumlah.
Misalnya: Ia lahir pada tahun 1956 di Bandung.
 (5) Tanda titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka.
Misalnya: Lawrence, Marry S. Writting as a thinking process. Ann
                        Arbor: University of Michigan Press, 1974.
(6) Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.
Misalnya: Koleksi buku di perpustakaanku sebanyak 2.799 judul.
(7) Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul, misalnya judul buku, karangan lain, kepala ilustrasi, atau label.
Misalnya: Catur untuk Semua Umur (tanpa titik)
(8) Tanda titik tidak dipakai di belakang (1) alamat pengirim dan tanggal surat atau (2) nama dan alamat penerima surat.
Misalnya: Semarang 17350 (tanpa titik)
B. Tanda Koma (,)     
(1) Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.
Misalnya: Reni membeli permen, roti, dan air mineral.
(2) Dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi atau melainkan.
Misalnya: Saya ingin datang, tetapi hari hujan.
(3) Dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya. Tetapi tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya.
(4) Tanda koma harus dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat, seperti oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi.
Misalnya: Jadi, masalahnya tidak semudah itu.
(5) Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan dari kata yang lain yang terdapat di dalam kalimat.
Misalnya: Wah, bagus, ya!
(6) Dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
Misalnya: Kata ibu, “Saya berbahagia sekali”.
(7) Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian alamat, (ii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Misalnya: Jakarta, 11 November 2003
(8) Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki.
(9) Tanda koma dipakai di antara nam orang atau gelar akademik yang mengikutinya.
Misalnya: Zukri Karyadi, M.A.
(10) Dipakai intuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya membatasi.
Misalnya: Guru saya, Pak Maliki, Pandai sekali.
(11) Dipakai untuk menghindari salah baca di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat
Misalnya: Atas perhatian Dewi, Kartika mengucapkan terimakasih.
(12) Tanda koma tidak dipaki untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.
Misalnya: “Baca dengan teliti!” ujar Bu guru.
C. Tanda Titik koma (;)
(1) Dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Misalnya: Hari makin siang; dagangannya belum juga terjual.
(2) Dipakai sebagai pengganti kata penghubung.
Misalnya: Ayah mencuci mobil; ibu sibuk mengetik makalah; saya sendiri asyik menonton sepak bola.
(3) Dipakai untuk memisahkan unsur-unsur dalam kalimat kompleks yang tidak cukup dipisahkan dengan tanda koma.
D. Tanda Titik Dua (;)
(1) Dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap diikuti perincian.
Misalnya: STIE mempunyai dua jurusan: manajemen dan akuntansi.
(2) Dapat dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan penerimaan.
Misalnya:
            Ketua               :           Nawangwulan
            Sekretaris        :           N.Handayani
Bendahara      :           Annisa
(3) Dapat dipakai dalam tteks drama sesudah kata yang menunjukan pelaku dalam percakapan.
(4) Dipakai di antara jilid atau nomor halaman, di antara bab dan ayat dalam kitab suci, di antara judul dan anak judul suatau karangan, serta nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.
E. Tanda Hubung (-)
(1) Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris.
(2) Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris.
(3) Menyambung unsur-unsur kata ulang.
(4) Menyambung huruf yang di eja satu-satu ataupun bagian-bagian tanggal, bulan, dan tahun.
(5) Boleh dipakai untuk memperjelas hubungan bagian kata atau ungkapan.
(6) Dipakai untuk merangkai unsur bahasa indonesia dengan unsur bahasa asing.
F. Tanda Pisah ( - ) *panjang dua kali tanda hubung)
(1) Membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar kalimat.
(2) Menegaskan adanya keterangan lain, sehingga kalimat menjadi lebih jelas.
(3) Dipakai di antara dua nama tempat atau tanggal dengan arti ‘sampai ke’ atau ‘sampai dengan’.
Misalnya:
            Jakarta – Bogor
            Tanggal 10 – 15 November 1996
G. Tanda Elipsis (...)    
(1) Dipakai dalam kalimat yang terputus-putus.
Misalnya: Jika demikian ... ya, apa boleh buat.
(2) Menunjukan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan.
Misalnya: Sebab-sebab kolusi di ... akan diteliti lebih lanjut.
H. Tanda Tanya (?)
(1) Dipakai pada akhir kalimat.
Misalnya: Kapan anda wisuda?
(2) Dipakai dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.
Misalnya: Kios sebanyak 200 pintu (?) terbakar.
I. Tanda Seru (!)
(1)   Dipakai sesudah ungkapan yang berupa seruan atau perintah.
J. Tanda kurung (( ...))
(1) Dipakai untuk mengapit tambahan keterangan atau penjelasan
(2) Dipakai untuk mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan.
(3) Dipakai untuk mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan.
(4) Dipakai ntuk mengapit angka atau huruf yang merinci satu urutan keterangan.
K. Tanda Kurung Siku ([ ... ])
(1). Dipakai untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain.
(2) Dipakai untuk mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah tertanda kurung.
L. Tanda Petik (“ ... “)
(1) Dipakai untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan.
(2) Dipakai untuk mengapit judul syair, karangan atau bab buku yang diacu pada kalimat.
(3) Dipakai untuk mengapit istilah yang mempunyai arti khusus atau kurang dikenal.
(4) dipakai untuk mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus.
(5) Dipakai untuk menandai bagian kalimat yang tidak mengandung arti sebenarnya.
M. Tanda Petik Tumggal (‘ ... ‘)
(1) Dipakai untuk mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.
(2) Dipakai untuk mengapit makna, terjemahan, penjelasan kata atau ungkapan asing.
N. Tanda Garis Miring (/)
(1) Dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandan masa satu tahun, yang terbagi dalam dua tahun takwim.
Misalnya: Tahun akademik 2003/2004
(2)Dipakai sebagi pengganti kata atau dan tiap.
O. Tanda Penyingkat atau Apostrof (‘)
Menunjukan penghilang bagian kata.
            Misalnya: Malam ‘lah tiba. (‘lah = telah)
Sumber : Buku Komposisi Bahasa Indonesia